MEGA MENDUNG


Aku, kita, seperti bagian mega-mega itu. Berada di setiap lapisannya. Bersama gumpalan-gumpalan awan putih, kelabu, dan hitam yang menyimpan air dan bakatnya menurunkan hujan. Perubahan terus-menerus seperti cara waktu bernafas. Dan pagi, dan siang, dan sore, dan malam memeluk seluruh misterinya. Jarak langit dan bumi  terasa semakin dekat.

Mata, rasa adalah ukuran pasti

Seperti aku, kita, bernafas melalui doa dan merajut kembali detailnya secara wajar. Melewati jalan yang sudah dipersiapkan. Berjalan sendiri-sendiri sekaligus bersama-sama. Meski jarak antara aku, kita dan mega-mega di langit adalah jarak tak terukur. Ketinggian yang tak berujung dan kedalaman yang tak berbatas. Ada rendah yang merendah, ada tinggi yang dilevelkan “atas”. Berlapis-lapis. Juga, ada tubuh dengan cara melihat terbalik.

Mata, rasa adalah ukuran pasti.

Udara yang membalut diriku, dan diri kita, antara tempat kita berada dengan jarak yang diluarnya adalah fakta-fakta bahwa aku, diri kita, tidak pernah sendiri


Mega Mendung

Fitri setyaningsih

Menemukan Mega Mendung | Hindra Setya Rini

>> catatan perjalanan riset untuk proses penciptaan karya tari Mega Mendung, koreografer: Fitri Setyaningsih.


Sebermula kenangan tentang mega-mega.
pada suatu masa, ada seorang nenek tua yang berjarik dan berkebaya. ia bercengkrama dengan seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. ia bercerita tentang mega-mega di atas langit yang bisa bergerak dan hidup sebagaimana mahluk lainnya. seperti manusia. si nenek bahkan bercerita, suatu saat nanti awan-awan itu akan membawa terbang si gadis ke atas langit yang tinggi. bertemu mega-mega. waktu berselang, kemudian nenek menghilang. namun cerita tentang mega-mega di atas langit sana diam-diam mengendap dalam ingatan; yang kelak, si gadis akan menamainya sebagai masa depan.


Perjalanan menemukan Mega Mendung
    Petilan di atas merupakan cerapan saya tatkala mendengarkan cerita—bisa juga disebut sepenggal kenangan—masa kecil Fitri Setyaningsih. Sebagai mula gagasan karya tari Mega Mendung yang sedang ia mulai kerjakan. Merunut ke belakang, kenangan atas mega-mega dan perjumpaan dengan si Nenek itu cukup menghantuinya kurang lebih sejak enam atau lima tahun yang lalu. Baru tiga tahun belakangan ini ia mulai menggambar dan corat-coret mengikuti ingatan-ingatan yang terus keluar-masuk tersebut, terlebih sejak ia mengenal motif “mega mendung” semasa kuliah di Solo. Motif mega mendung ia temui pada batik Cirebon dan wayang beber. Ketertarikan perihal mega mendung sudah dimulai sejak masa itu, dan secara serius ingin diwujudkan sebagai sebuah karya tari, baru dimulai satu tahun belakangan ini.

BINTANG HENING



Bintang Hening
Dalam lubang bahasa, semua yang diluar bumi, angkasa, semesta, seperti debu-debu keheningan yang melekat dalam dirinya. Aku, kita, seperti bisa melihat keheningan itu. Selalu bersama gumpalan-gumpalan awan putih, biru, kelabu dan hitam yang menyimpan air. Perubahan terus menerus seperti cara waktu bernafas. Dan pagi. Dan siang. Dan sore. Keheningan yang ada adalah malam bersama bintang-bintangnya. Kumpulan debu, gas dan es yang memadat. Peta musim dan arah perjalanan. Lintasan-lintasan cahaya, kalung langit yang melingkari planet-planetnya. Jarak antara aku, kita Dan benda-benda di langit itu, seperti lubang bahasa yang tak terukur. Kesepian dan kebisuan bahasa untuk melukisnya kembali. Keheningan yang membalut diriku, diri kita, antara tempat kita berada dengan jarak diluarnya adalah fakta saat-saat kita tidak bisa memisahkan diri kita sebagai bagian dari debu-debu keheningan itu.


Kerja koreografi Bintang Hening
Bagaimanakah tubuh mendekati jarak: yang pendek, sangat pendek. Yang jauh, sangat jauh. Dan membuat berat: yang ringan, yang berat, yang kecil sangat kecil, yang besar sangat besar. Membuat yang cair, mengalir, yang padat, membuat gelombang, yang lambat, yang cepat.  Bagaimanakah tubuh mendekati suara, bunyi yang berjalan: berbisik, yang kecil, yang keras dan sangat keras. Bagaimanakah tubuh membuat perjalanan cahaya. Semua yang seakan-akan telah menyediakan kegagalannya sendiri, dan sebaliknya semua yang terbuka pada kemungkinan yang mengherankan bisa terjadi pada tubuh.
Tubuh penari mimiliki teknik dari belajarnya, pengalaman pentas, dan tubuh sehari-harinya untuk pekerjaan rutin. Teknik yang tidak bisa dihapus karena telah tertulis pada tubuhnya. Ia adalah kekayaan. Tetapi ketika teknik telah mentertibkan keheranan tubuh atas pertemuan-pertemuan di sekitarnya, teknik itu ikut membutakan naluri-nalurinya sendiri. Dalam keheranan itu, tubuh adalah bintang hening yang membuat orbit-orbit imajinasi, membakar dirinya untuk terjadinya enerji, untuk ada yang harus hidup. Menahan sendiri luka-lukanya sebagai sebab akibat dari jarak dan perbedaan. Ketika bintang hening itu meledak, apakah dirinya sendiri yang meledak, atau orbit-orbitnya juga akan ikut meledak.

Fitri Setyaningsih 


BINTANG HENING | KUTIPAN CERPEN PRIMO LEVI


Kutipan cerpen Primo Levi: Bintang Hening

Pada suatu ketika, di suatu tempat di alam semesta yang sangat jauh, tinggallah sebuah bintang tenang. Bergerak penuh ketenangan di keluasan langit, dikelilingi segerombolan planet-planet yang tenang-tempat tak ada sesuatu pun yang bisa diberitakan. Bintang ini sangat besar dan sangat panas.


Bintang hening ini ukurannya sepuluh kali matahari kita, dan matahari berkali-kali lipat besar dan beratnya dengan bumi kita. Ukurannya begitu membanjiri dimensi kita sendiri dan kita hanya bisa merepresentasikannya dengan usaha penuh kekerasan atas imajinasi kita. Kita kemudian berusaha mengukurnya dengan membuat dongeng-dongeng yang membangkitkan gema-gema, refleksi-refkeksi berjarak tentang diri kita dan sesuatu diluar ras manusia.


Adalah hal biasa di antara bintang-bintang untuk membakar hidrogen yang membentuk dirinya, dengan murah hati memberi energi kepada kehampaan, hingga mereka tereduksi pada suatu ketipisan yang bermartabat dan mengakhiri karier mereka seperti benda kecil putih yang paling sederhana. Namun bintang hening ini, setelah bermilyar-milyar tahun sejak kelahirannya, dan teman-temannya mulai punah, tidak terpuaskan dengan kepadatannya dan menjadi gelisah. Ia bergerak kian kemari, tidak secara teratur. Hingga ia makin mengecil membentuk sebuah noktah.


Kita masih tidak tau banyak dengan kematian perlahan-lahan dan kebangkitan kembali bintang-bintang: kita tau bahwa sesuatu meledak dalam mekanisme atomik Dan kemudian sebuah bintang meledak. Panas yang tak tertahankan. Horor instrisiknya terjadi dalam bentuk yang "sangat" cair, diperlambat oleh perjalanan panjang melalui bidang cahaya. Lautan dan es dari planet yang tak lagi hening itu kemudian mendidih, batu-batunya meleleh, gunung-gunungnya runtuh ke dalam lembah dalam bentuk lava. Kemudian seluruh planet tereduksi hingga menguap. Hancur bersama-sama dengan seluruh karya-karya lembut dan halus yang menggabungkan tenaga, kesempatan dan kebutuhan; melalui percobaan-percobaan dan kesalahan yang tak terhitung.


(Dikutip dan diedit kembali dari cerpen: Bintang Hening, karya Primo Levi, harian Suara Merdeka. Semarang 23 november 2008. Primo Levi adalah seorang penulis sekaligus ahli kimia italia keturunan Yahudi. Ia menjadi korban penyiksaan rezim Nazi Jerman. Terjemahan ke dalam bahasa indonesia oleh Dwi Cipta).

Suasana Ruang Angkasa Fitri Setyaningsih | Tempo


Tiga Eksplorasi Gerak Fitri Setyaningsih | Alia Swastika & Briggita Isabella | Tempo

MINGGU, 08 AGUSTUS 2010 | 15:20 WIB

TEMPO InteraktifYogyakarta - Dalam pementasan tiga repertoranya di Yogyakarta pekan lalu, koreografer Fitri Setyaningsih menyuguhkan karya kolaborasi yang menarik, antara seni pertunjukan dan seni rupa. Bertajuk Selamat Datang dari Bawah, karya kolaboratif itu hasil proses kreatif Fitri yang melibatkan para seniman dari beragam latar disiplin: rupa, teater, dan sastra.

Gagasan temanya sendiri berangkat dari imaji Fitri tentang berjalan atau bergerak ke bawah. Ia ingin mengeksplorasi gerak yang menunjukkan bagaimana tubuh manusia merespons gravitasi dan menyikapi dataran. Tak hanya menjelajahi eksperimentasi ruang, Fitri juga mencoba menyuguhkan pengalaman menonton yang lain. Para penonton diajak menyaksikan tiga pertunjukan yang berbeda selama tiga hari berturut-turut. Ketiga pertunjukan itu adalah: Lubang Cahaya Bernapas (Pesan Dari Franz Schubert), Dataran yang Terus ke Dasar (Pesan dari Zen), dan Penyusup dalam Tubuh (Pesan dari Udara).

Fitri Setyaningsih: Daring to dance | Christina Schott | The Jakarta Post

Yogyakarta | Fri, August 28 2009 | 10:49 am
Ticktock, ticktock. The two figures wrapped in body-covering cloaks move like the hands of a clock, pending left and right, again and again.
One moves forward faster than the other on its elliptical circuit across the stage. At the inevitable meeting of the fast passing the slow, the experimental live music rises to a screech; the two bodies vibrate as if electrocuted. Hundreds of looped wires sewn onto the cloaks stand on end as they touch each other, disturbing the orderly impression of the ticking clock.
Then the music fades again to its former meditation-like rhythm and the figures slowly continue ticktocking in front of a huge screen reflecting ethereal colors from sunrise to sunset: The 24 minutes of the performance represent the 24 hours of a day.

Mega Mendung di Kepala Fitri | Fanny Chotimah

Sebuah rangka jembatan dari besi, dua penari lelaki di atas jembatan itu, tubuhnya terlilit kain merah marun. Di bawahnya tujuh penari berkerumun berkostum serba putih, setiap penari berdiri di atas wajan, mereka menggerakkan kedua kakinya di atas wajan itu. Suara debur ombak.

Koreografer Fitri Setyaningsih kembali mempresentasikan work in progress berjudul Mega Mendung, bertempat di Teater Arena Taman Budaya Surakarta, 5 November 2014. Menurut catatan produser Helly Minarti, Mega Mendung terinspirasi oleh motif batik mega mendung yang menjadi ciri khas kota Cirebon. Fitri menelusuri sejarah dan makna di balik motif ini, menghubungkan mitologi lokal, tuturan sejarah dan narasi-narasi historis yang melingkupinya. Berbekal penelusuran di Cirebon, Rembang dan Lasem. Fitri merajut dan mentransformasi imaji-imaji visual serta lanskap alam ke dalam bahasa koreografiknya.

BINTANG HENING (A TRANQUIL STAR) | GET LOST PROGRAM

From the curator Frie Leysen, GET LOST program

AKU HAMPIR PLASTIK


Pertunjukan Tari di Atas Sungai Pasar Baru dalam rangka Urban Festival 2007 Dewan Kesenian Jakarta. Ada jam dalam sungai, kain biru, Srimpi Sungai, penari dengan kostum yang dikonstruksi dari pelampung. Ada laut dalam sungai Pertunjukan tari di atas sungai ini untuk menghidupkan kembali memori warga kota terhadap budaya sungai. Sungai sebagai urat nadi tubuh kota: Sungai yang sehat dan bahagia.

Kota Sungai. Salah satu ruang publik yang paling terancam di Jakarta adalah sungai. Jakarta sebagai kota pelabuhan sebenarnya merupakan ibu untuk seluruh sungai yang mengalir di tubuhnya. Tetapi sungai-sungai di Jakarta telah lama sakit: erosi dari atas, sampah dan banjir. Budaya sungai juga hilang: sungai telah ditinggalkan sebagai salah satu jantung kehidupan untuk bermain, transportasi maupun mata pencaharian. Jakarta perlu menata kembali dirinya sebagai “kota sungai”. Sungai adalah rumah kita bersama.